19 Jul 2014

Gerakan Sejuta Waooow..

Pernah saya mencoba sebuah kompetisi..
ya, sejenis pencarian delegasi atau lebih tepatnya seseorang yang nantinya diberi tugas untuk meliput sebuah kebudayaan dari kota-kota di indonesia. atau bisa dibilang Pelancong (Ekspeditor) yang nantinya men-jurnalkan sebuah kebudayaan.
Acara tersebut digagas oleh sebuah lembaga Gerakan Sejuta Data Budaya

Dari persyaratan administrasi yang telah saya kirim, alhamdulillah saya sempat dihubungi oleh panitia untuk diberangkatkan..
namun sayang, takdir berkata lain...

tanggung jawab besar sudah diamanahkan oleh teman-teman jurusan di pundak saya.

berikut Essai yang saya buat:

Malang, 29 Mei 2014
Latar belakang saya mengikuti kegiatan ini adalah rasa keingin tahuan saya yang tinggi akan kebudayaan nusantara khususnya tanah jawa. Serta dorongan hati nurani saya untuk menyelamatkan tradisi kesenian dan kebudayaan nusantara khususnya tanah jawa. Terkait dengan seni dan budaya yang luhur, kini mulai jarang sekali diminati oleh generasi muda. Mulai dari jaranan bahkan kesenian lainnya yang kini kita belum atau bahkan tidak tahu. 

Tidak diragukan lagi beberapa kota yang memiliki tradisi seni dan budaya yang cukup kuat dan kental pastinya kuat dalam usaha mempertahankan kesenian di daerahnya. Dalam skala kota, kecamatan, bahkan di setiap desa pasti ada ciri khas tersendiri dalam laku kesenian dan kebudayaan. Namun, bagaimanakah kota-kota lain yang tergerus menjadi kota industri dengan kemajuan pembangunan ekonomi namun tanpa diimbangi dengan culture building juga?? 

Dalam mind map saya, peran Budaya adalah sebagai landasan kita, hasil dari buah pikiran kita yang nantinya akan membentuk sebuah karakter di setiap individu. Dari karakter setiap individu nantinya akan berkembang dalam skala masyarakat, hingga akhirnya budaya akan menjadi karakter sebuah bangsa. Bahkan budaya lah yang nantinya berperan pula dalam pembangunan suatu bangsa. 

Topik yang ingin saya pelajari dan cari adalah, mengapa kesenian kebudayaan yang tadinya adalah sebagai pembentuk karakter dan sarana “mencari jati diri bangsa” kini mulai dihindari?? Apakah kita berpikir dari kesenian seperti yang saya sebutkan tadi berbau klenik, mistik, dan supranatural atau sebagainya??. Di pikiran saya, mengapa kita selalu cepat menganggap bahwa kesenian tradisi yang luhur itu berbau mistis, kesurupan, dan diharamkan. Semudah itukah kita “disetting” untuk mulai meninggalkan tradisi?. Dari sini saya timbul pemikiran bahwa bila anggapan ini terus menerus tertanam pada pemikiran kita, dan generasi-generasi setelah kita maka mulai punahlah kesenian tradisional sejenis jaranan, barongan, atau bahkan reog ponorogo. Jadi, akan sangat percuma bila kita membela dengan aksi demo dan berkoar di sosial media tentang penyelamatan kesenian dan kebudayaan tanpa terjun dan turun langsung dalam Laku dari kesenian itu (mengalami langsung menjadi player). 

Dengan kesempatan ekspedisi budaya ini, saya akan belajar dari sistem kesenian Reog Ponorogo, masuk ke dalam sistem permainan, menjadi jiwa yang ndadi dalam kesenian tradisi adi luhung ini. Karena saya benar-benar ingin tahu.. pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh kesenian budaya ini untuk kita. Sehingga dalam penulisan jurnal perjalanan saya nantinya, kita semua akan tahu dan berpikir secara rasional tentang kesenian nusantara. Tidak semerta-merta kita langsung berpikiran bahwa ndadi adalah klenik, haram, dan harus dihindari. Tapi saya ingin merasakan tentang Getaran Hati bila berkata tentang Kesenian. Ketika telinga mendengarkan nada-nada gamelan, alunan suara sinden, sehingga hati yang tergetar menjadi gerakan badan yang menjadi ndadi. 

Sebagai mahasiswa Teknik Industri, saya juga ingin mengimplementasikan ilmu yang telah saya dapat dari bangku kuliah dalam pengembangan umkm khususnya seniman-seniman lokal pengrajin kesenian tradisional (Reog Ponorogo) di Kota Ponorogo yang nantinya akan saya kunjungi. Karena dengan diangkatnya peran seniman lokal nantinya akan memberikan dampak baik pada sektor ekonomi masyarakat setempat, sekaligus memperkuat kesenian dan budaya tradisional sebagai karakter Bangsa Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar