29 Agu 2018

Surat Dari Blora

Masih dalam nuansa kemerdekaan sayang..

Memaknai kemerdekaan Indonesia sama halnya memaknai sebuah karya. Kemerdekaan di mata saya merupakan buah karya yang diperjuangkan leluhur untuk kita teruskan dan kita isi. Pada suatu ketika saya merasa bodo-amat (re: gak ngurus) mau ngisi kemerdekaan pakai atraksi macam apa. Tapi, satu hal yang membuat saya heran adalah setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya karya WR. Soepratman, ada getar di hati yang mana secara teknis dan otomatis saya pun mbrebes mili (meskipun saya sembunyikan kalau di depan umum sih). Dari sini saya tahu, karya yang dikerjakan dengan Rasa, pasti akan sampai pada Dimensi Rasa si penikmat karya tersebut. Sebagaimana memaknai kemerdekaan sebagai karya yang diharapkan akan membangunkan kembali Roh Nasionalisme kita untuk mengisi kemerdekaan dengan karya-karya kita.



18 Agustus kemarin saya merasa kehilangan kesempatan nonton Opening Ceremony Asian Games ke-18. Karena gak ada TV di kos, mau gak mau ya streaming siaran ulang di Youtube. Dari acara itu, kita bisa lihat konsep acara yang begitu amazing cetar badai!. Orang-orang hebat yang terlibat pun benar-benar kreatif dan mau untuk diajak kreatif, dan tentunya Indonesia menjadi trending topic dari acara itu. Kekayaan budaya Indonesia dikemas menarik dengan teknologi canggih di Gelora Bung Karno malam itu. Saya menilai ini adalah konsep yang benar-benar Millenials dan kreatif!

Nah, ngomong-ngomong soal kreatif, hal serupa juga sedang digagas oleh teman-teman pemuda Ponorogo dalam menggelar acara Festival Nasional Reyog Ponorogo awal September nanti. Jujur saya benar-benar iri (dalam konteks positif) pada Ponorogo. Pemuda dan birokrasi kabupaten bisa jalan bareng untuk bikin event Nasional di kota mereka. Hmmmm.. Beda kota, beda juga potensinya sih. Tidak perlu muluk-muluk, bukan kegiatan besar yang perlu ditiru melainkan semangat pemudanya untuk menggali, mengenal, mengangkat nilai dan potensi daerah.

Era digital dan teknologi benar-benar berkembang pesat sayang..
Kita bisa tau potensi konsumen untuk menikmati daya tarik sebuah daerah. Apalagi foto instagram bisa kita zoom dan lacak lokasinya. Begitu juga dalam memancing daya tarik teman-teman muda untuk berpartisipasi, berkegiatan positif di kota masing-masing. Sayangnya..kalau ngomong soal pemuda, tidak lepas dari problematika baik internal, maupun sosial. Apalagi pemuda usia 26 tahunan juga dibatasi oleh hal-hal klise di lingkungan sosial. Yaaah, you know what I mean..

Kembali lagi soal berkarya, apalagi karya yang berkontribusi. “Aduh, jangankan berkontribusi buat kota.. buat diri sendiri saja saya masih setengah-setengah, gak jelas juga”. Kalimat ini pernah saya lontarkan waktu ngopi bareng sambil minum tuak bareng teman-teman diskusi di Tuban. Pendapat saya pun disanggah oleh teman saya, ternyata kontribusi terhadap daerah itu gak melulu soal kegiatan besar, tapi dari kegiatan kecil pun sudah berkontribusi mengangkat kedaulatan suatu daerah. Misalnya, pakai kaos berlogo Arema ke kota Blora, secara tidak langsung itu pun sudah termasuk kontribusi memperkenalkan kota Malang ke daerah lain. Yaaa… termasuk minum tuak Tuban waktu itu pun sepertinya juga termasuk melestarikan kedaulatan tradisi Tuban. hehehehe..

So, dari pendapat teman, saya mengambil benang merah. Bukan hanya memaknai kemerdekaan saja, tapi juga soal memaknai kontribusi. Saya kira ini akan menjadi problem kecil yang impactnya juga akan besar. Tidak jarang, “Kontribusi” dimaknai dengan memberikan karya atau perubahan positif yang besaaaar, woooow, dan cetar!. Saya kira itu cara pandang yang kurang relevan dalam memaknai kontribusi saat ini. Hal kecil pun juga bisa menjadi kontribusi yang impactnya juga besar bagi masyarakat. Tidak jarang pula, mimpi teman-teman untuk berkarya pun terhambat dan menjadi wacana saja. yaaaa.. wacana.

Kontribusi dengan karya ada yang bisa dilakukan secara revolusi (secara cepat) dan evolusi (secara perlahan dan bertahap) tergantung potensi, dan kemampuan stakeholder yang terlibat dalam suatu daerah. Akan menjadi hal yang sedikit rumit, bila kreativitas pemuda dalam membangun suatu daerah kurang didukung bahkan tidak ada kolaborasi dengan birokrasi daerah tersebut.

Bukan menjadi masalah utama sih, tapi kembali lagi kepada Niat kita sebagai pemuda yang ingin berkontribusi. Ngobrol soal niat akan sangat panjang, Sebab babagan soal niat/nawaitu itu tidak berwujud (intangible), tapi lahir dari kesadaran hati. Bila niat sudah tertata, besar ataupun kecil sebuah kontribusi pada suatu daerah akan menjadi nyala semangat untuk masyarakat lainnya. Seperti kalimat saya di awal, suatu karya yang dikerjakan dengan Rasa, akan sampai pada dimensi rasa si penikmat karya itu. Bilamana semangat pemuda dengan Roh Nasionalisme membuat sebuah kontribusi baik kecil maupun besar, saya kira akan timbul simpul-simpul lain yang juga satu visi dalam membangun daerah baik cepat maupun secara bertahap.

Kemudian, kita akan menemukan arti dari proses mencapai maupun mengisi kemerdekaan ini.
Mari merdeka dalam berkarya, kontribusi yang memberikan energi dan inspirasi positif.
Rahayu, rahayu, rahayu.



Blora, 23 Agustus 2018

Ganiawan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar